Tangki bola kuning instalasi migas dengan latar langit biru
Joule The Energy

Solderhangat.

solderhangat.com

Instrumentasi, metering & IoT — catatan dari lapangan

Mudik Lebaran 1437 H

Setelah hampir 1 tahun tidak updated di blog ini rasanya ada kerinduan lagi untuk online kembali, setelah mempertimbangkan apa yang akan saya posting akhirnya terpikir untuk berbagi mengenai pengalaman mudik 2016, karena memang hal inilah yang lagi menjadi kebutuhan saat ini,yaitu mudik untuk berlebaran bersama bersama sanak keluarga di kampung  halaman. dimana mulai April 2015 saya sudah mulai menetap di kota Batam.

Lebaran tahun 1 Syawal 1437 H yang bertepatan denga Juli 2016 akan menjadi lebaran yang berkesan dari lebarahan tahun-tahun sebelumnya karena untuk lebaran tahun ini ritual mudik akan saya lakoni bersama istri dan anak-anak saya, kalau tahun-tahun sebelumnya saya melaksanakan mudik sendiri dari Jakarta ke Pekanbaru maka pada tahun ini mudik saya dari Batam ke Pekanbaru. walaupun dari segi jarak lebih dekat tetapi repotnya sama saja, dimana tahapan yang harus dilalui antara lain:

1. Mencari Tiket untuk transportasi

2. Hari keberangkatan

3. Checkin

4. perjalanan

5. Sampai tempat tujuan

Mencari Tiket

Lebaran tahun ini jatuh pada bulan Juli 2016 dimana di akhir juni 2016 adalah proses penerimaan murid baru untuk jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA dan kebetulan tahun ini kedua anak saya memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dimana yang anak pertama akan masuk SMA dan yang kedua masuk SMP, sehingga mudik tahun ini akan dipengaruhi oleh dua event yang penting ini atau dengan katalain hari mudik Batam ke Pekan Baru akan dipengaruhi oleh tanggal daftar ulang yang ditetapkan sekolah masing-masing. dan hari itu adalah tanggal 2 Juli 2016.

Perburuan tiket baru bisa saya laksanakan pada tanggal 27 Juni 2016, memang hal ini sangat beresiko untuk tidak kebagian tiket mengingat hari-hari tersebut adalah puncak arus mudik lebaran 1437 H, sebenarnya ada 2 model transportasi yang mungkin untuk pulang ke Pekan baru dari Batam yaitu:

1. Transportasi Udara / Pesawat

2. Transportasi Laut / Kapal Laut

pada hari biasa saya tentunya akan memilih pilihan pertama dengan pertimbangan cukup murah dan efisien mengingat tempat tinggal saya  Pekan Baru dan Kebetulan juga rumah saya tidak jauh dari Bandar Udara, untuk pilihan ke 2 pada hari biasa hampir tidak pernah masuk dalam list saya karena memang tidak akan efisien dan dengan biaya yang hampir sama dengan pilihan pertama bahkan akan lebih mahal, karena jika memilih pilihan ke 2 saya harus menempuh waktu yang cukup lama  yaitu perjalanan darat dari Pekan Baru ke Tanjung Buton dan dari Tanjung Buton dilanjutkan dengan Kapal Laut menuju Batam, sebagai gambaran perjalanan darat Pekanbaru ke Tanjung Buton diperlukan waktu berkendara dengan mobil sekitar 3 jam dan perjalanan laut ke Batam diperlukan waktu sekitar 5 Jam sehingga total dalam keadaan normal memerlukan waktu 8 Jam bandingkan saja dengan pesawat hanya 50 menit saja  dengan biaya hampir sama bahkan dapat lebih murah jika dapat tiket promo.

disaat musim mudik lebaran segalanya bisa berubah ? karena saat ini adalah peak session hampir seluruh orang indonesia pulang ke kampung halaman. semula saya tetap berusaha memilih mencari tiket pesawat dan pencarian saya mulai pada tanggal 27 Juni 2016 secara online dan kenyataannya what…….. !! harga tiket Batam Pekanbaru mencapai 3 kali lipat bahkan 4 kali lipat harga tiket normal, biasanya saya pada hari normal membeli tiket paling mahal 300 ribu rupiah tetapi pada mudik kali ini  harganya meroket mencapai harga diatas 1 juta/ orang, akhirnya setelah berembuk dengan istri dan anak-anak kami putuskan lupakan dulu terbang  dan kami pilih berlayar dari Batam ke Tanjung Buton dan dilanjut dengan naik mobil ke Pekanbaru.

Hunt for the ticket…

pada hari itu 27 Juni 2016 saya putuskan untuk mencari tiket lansung secara resmi ke pelabuhan Sekupang dan ternyata kondisinya setali dua uang dengan tiket pesawat tiketnya habis terjual untuk keberangkatan sampai dengan lebaran…. haaa apakah kami tidak mudik tahun ini ……? tentu saja istri dan anak-anak saya akan berteriak tidak…. kita harus pulang …. kita harus lebaran di kampung…. dan seterusnya…….. hal ini saya maklumi karena memang mereka baru saja akan pindah ke Batam mengikuti saya  yang sejak tahun 2015 sudah bekerja di Batam setelah dipindahkan dari kantor pusat di Jakarta….. hmmmm how to solve this problem …..? minta bantuan paranormal ?…. tidak … tidak itu dosa karena ini bulan puasa, tetapi saya yakin sebenarnya tiket itu ada.. hanya saja diborong oleh para calo tiket …. that it… mau beli dari calo ? bisa saja mungkin harga lebih mahal  lalu bagaimana donk???? pada saat genting dan putus asa ini saya teringat pepatah lama banyak berteman akan banyak yang membantu… yah ini saya buktikan saya teringat mempunyai beberapa teman yang punya akses ke pelabuhan di Batam atau Aparat yang bisa membelikan tiket buat saya dan keluarga saya angkat telpon dan mohon bantuan mereka… dan alhamdulillah puji syukur ke Allah Swt, salah satu teman saya menyanggupi membantu saya, menurut informasi dia akan meminta bantuan protokoler yang ada di pelabuhan Sekupang, dapat saya jelaskan protokoler adalah istilah Aparat Tentara AL yang ngepam di Sekupang dan lewat bantuan mereka saya mendapatkan tiket dengan harga 300 ribu/orang.  Got Its we have the Thickets  dan Let Journey to Kampoeng begin……

Departure Day……

Sabtu 2 Juli 2016… hari yang ditunggu telah tiba…. hore … hore pulang kampoeng jadi juga, keberangkatan Kapal dari Sekupang menuju Tanjung Buton menggunakan MV. Dumai Express Line 2 dengan waktu keberangkatan pukul 5:00 WIB ….. what?… tidak ada yang lebih pagi lagi….. berarti bertambah lagi donk waktu kurang tidur nya… ya .. memang selama bulan puasa ini saya menjadi kurang tidur akibat adanya aktivitas sahur dan kerja di pagi hari… tetapi harus tetap semangat bangun jam 2:45 dilanjut sahur jam 3:00 selesai sahur langsung nyalakan mobil minta antar sama saudara ke Sekupang pada pukul 4:00 dan sampai di sekupang pada pukul 4:35 lansung boarding ke Kapal pada pukul 4:40 duduk pada kursi 71, 72, 73 lantai 1 menunggu kapal departure pada pukul 5:30 menuju Tanjung Balai Karimun.

DSC_0006sekupang

Tanjung Balai Karimun puku 7:30 WIB

Berlayar dalam kecepatan sedang MV Dumai Line 2 mulai mengarungi laut kepulauan riau, yang saya ingat kapal ini melewati daerah yang cukup familiar bagi saya yaitu Pulau Pemping di kecamatan belakang padang, hal ini ditandai dengan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) warna kuning yang kami lewati saya sangat yakin itu adalah SBNP 08 milik perusahaan tempat saya bekerja dan dan merupakan salah satu tanggung jawab saya dan team dalam memelihara alat tersebut.

DSC_0011DSC_0012

Tak terasa jam  menunjukkan pukul 7:30 WIB kapal mulai memasuki pelabuhan Tanjung Balai Karimun atau baiasanya disebut Tanjung Balai, pulau ini cukup terkenal bagi orang yang bekerja di Beacukai atau angkatan laut karena memang pulau ini termasuk salah satu pulau yang berada dekat dengan Singapura selain Batam dan Bintan, sayang Kapal tidak berhenti lama di Tanjung Balai, kapal hannya berhenti sesaat untuk menurunkan penumpang dan lansung meninggalkan pelabuhan Tanjung Balai menuju destinasi selanjutnya Selat Panjang.

TJB 2TJB 3

Selat Panjang pukul 9:45 WIB

SLPSLP2

MV Dumai Line 2 berlayar kembali menuju destinasi selanjutnya Selat Panjang, ada hal yang perlu kami sukuri yaitu cuaca pada hari ini cerah, gelombang sedang dan langit bersinar cerah. waktu yang diperlukan dari Tanjung Balai menuju Selat Panjang adalah lebih kurang 2 jam  dan dengan cuaca yang bersahabat dan cerah mungkin bisa lebih cepat lagi, tepat pada pukul 9:45 MV Dumai Line 2 merapat dipelabuhan Selat panjang dari buritan kapal saya dapat melihat kapal-kapal nelayan dan rumah-rumah panggung yang sebagian mejuntai ke laut, sebagai informasi Kota Selat Panjang adalah ibu kota kabupaten Meranti yang merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bengkalis dan kota ini masuk dalam Provinsi Riau yang sebelumnya adalah provinsi induk dari Kepulauan Riau sebelum terjadi pemekaran provinsi baru.

Tanjung Buton

MV Dumai Line 2 sama sekali tidak berhenti di Selat Panjang, kapal hannya lewat saja dan terus berlayar kearah bibir selat-selat kecil yang ada di Pesisir timur  pulau Sumatera, Kapten menurunkan kecepatan kapal saat melewati selat-selat kecil di antara pulau-pulau kecil, hal ini dimaklumi karena disepanjang selat ini terdapat banyak pemukiman penduduk dimana jika kapal  bergerak dalam kecepatan tinggi maka akan tercipta riak gelombang yang besar yang akan membahayakan kapal –kapal kecil disekitar dan membuat abrasi pantai di sekitar atau bahkan mungkin bisa merobohkan rumah penduduk, dari informasi yang saya dapatkan dari beberapa penumpang yang sudah biasa menggunakan kapal laut rute Batam – Buton kalau kapal bergerak dalam kecepatan kencang bisa-bisa dilempari batu oleh penduduk sekitar dan sepertinya sudah menjadi konsesi diantara kapten kapal yang melepati selat ini maka kecepatan kapal akan dikurangi sehingga ombak yang ditimbulkan tidak besar.

btn1BTn2

Berlayar dalam kecepatan lambat sedikit membosankan bagi saya dan mungkin semua penumpang lainnya, tetapi kami sedikit terhibur dengan pemandangan hutan Bakau di sekitar selat dan kalau dicermati dengan berlayar ini saya menjadi memahami pentingnya peran hutan bakau ini bagi lingkungan perairan yaitu dapat mencegah abrasi pantai dan berfungsi sebagai habitan bagi fauna lainnya dan saya menyadari bahwa sesungguhnya Indonesia pasti memiliki hutan bakau yang sangat luas karena Indonesia adalah negara kepualauan yang secara otomatis maka hutan bakaunya juga banyak jadi mulai saat ini bersama tulisan ini saya juga akan mulai mengkampanyekan save our mangrove untuk lingkungan yang lebih baik.

Tepat pada pukul 11:00 dari haluan kapal saya dapat melihat pelabuhan Tanjung Buton yang berada di pesisir timur pulau Sumatera dan dalam hati saya berkata saya sudah sampai di kampung halaman, walaupun sebenarnya kami harus melanjutkan perjalanan darat dengan Mobil selama 2 Jam menuju Pekanbaru dan sekedar informasi pelabuhan Buton ini berada di Kabupaten Siak  provinsi Riau. setalah melewati sedikit jalan yang berlobang akhirnya kami sampai juga kejalan yang menurut saya cukup mulus dan mobil dapat di pacu dalam kecepatan 80 km/jam dalam hitungan saya kami memerlukan waktu lebih kurang 2 jam dari Buton menuju pekanbaru.

pada kesempatan ini ada sedikit tips bagi pembaca blog ini yang ingin mencoba perjalanan laut dari Batam menuju Buton antaralain:

1. Jangan membawa barang bawaan yang banyak

2. Pack atau kemas barang bawaan dengan baik dan jika diperlukan wrapping dengan plastik

3. Labeli barang bawaan anda yang akan dimasukkan ke Palka atau bagasi Kapal karena pihak kapal tidak memberi label barang bawaan anda, dan saat sampai pelabuhan kita harus mencari sendiri dan mengambil barang bawaan masing-masing, jika tidak diberi label atau kita tidak ingat barang bawaan kita atau kotak barang kita sama dengan penumpang lain maka bisa saja akan tertukar atau terbawa oleh penumpang lainnya.

setelah meleawti jalanan yang hampir lurus dengan sedikit belokan dan gelombang tepat pada pukul 15:15 kami sampai di Pekanbaru, mungkin ada sedikit keterlambatan karena proses bongkar barang di pelabuhan Buton yang memakan waktu hampir  1,5 jam akibat fasilitas yang kurang memadai dan kondisi pelabuhan yang padat sehingga MV Dumai Line yang lagi bongkar barang harus mengalah dulu dari fasilitas sandar karena adanya kapal lain yang harus menaikkan penumpang dan ditambah oleh kondisi laut yang surut sehingga fasilitas sandar kapal tidak dapat digunakan secara maksimal. tetapi secara umum kami menikmati perjalana kami  dan kemungkinan kami akan kembali menggunakan jalur laut lagi saat kembali dari Pekanbaru menuju Batam, akhir kata Wonderful Journey and Admire Indonesia and I Think Indonesia is The Most Beautiful Country in The World SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H.

Leave a Comment